Sorotan terutama diarahkan pada pekerjaan lantai yang dinilai menggunakan lapisan semen cukup tipis. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam proyek revitalisasi.
Selain persoalan lantai, penggunaan semen merek MERDEKA juga menjadi perhatian. Saat dikonfirmasi media, pihak pekerja menyebut penggunaan semen tersebut dilakukan karena stok semen merek Bosowa disebut telah habis.
Di sisi lain, penerapan keselamatan kerja di lokasi proyek juga turut menjadi sorotan. Sejumlah pekerja disebut belum menerapkan Alat Pelindung Diri (APD) sebagaimana standar K3 yang semestinya diperhatikan dalam pekerjaan konstruksi.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian pihak terkait, mengingat pekerjaan revitalisasi bangunan publik, terlebih rumah ibadah, membutuhkan pengawasan yang ketat agar kualitas pekerjaan dan keselamatan pekerja tetap terjamin.
Publik berharap pihak terkait melakukan evaluasi terhadap pelaksana revitalisasi Masjid Agung Takalar, termasuk memastikan kesesuaian material, ketebalan pekerjaan lantai, serta penerapan standar K3 di lapangan.
Evaluasi tersebut diharapkan dapat dilakukan secara transparan dan profesional sehingga proses revitalisasi berjalan sesuai ketentuan serta menghasilkan bangunan yang berkualitas, aman, dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
